Kisah orang kebal berasal dari kelemahan senapan musket.

Ada satu anekdot yang bercerita jika di Indonesia banyak orang sakti. Saking banyaknya sampai banyak kerajaan lokal yang ditumbangkan satu persatu oleh Kolonialis Eropa.


Satu jenis kesaktian yang sering disebut adalah kebal peluru. Tapi anehnya kisah manusia kebal peluru sangat massif saat jaman VOC dan sangat jarang terdengar saat abad 20.


"KENAPA COBA?"


Dugaanku satu, karena jenis senjatanya berbeda! Sebelum abad 20 senapan yang sering digunakan adalah jenis musket. Yang membedakan dengan senjata api abad 20 adalah metode penggunaan mesiu dan kerangka senjata.



Pada masa Napoleon, Tentara Eropa yang berperang sering berbaris agar bisa bergantian menembak dan mengisi ulang peluru. Isi ulangnya gak seperti sekarang yang tinggal ganti magasin tapi harus masukin mesiu ke tabung alhasil isi ulang amunisi butuh waktu yang lama. 


Selain itu satu fakta yang tersirat dari penggunaan sistem berbaris ini adalah akurasi musket yang sangat menyedihkan. Sistem berbaris dipakai dengan harapan peluang mengenai musuh semakin besar, walaupun yang kena bukan yang sebelumnya kita bidik.


Jarak efektif bisa mencapai lebih dari 100 M, tapi masalahnya semakin jauh ya makin melempem itupun kadang belok sendiri ketika ada angin berhembus. Ditambah pasukan musuh gak segila itu perang tanpa pakaian, pasti mereka pakai zirahlah! Jarak 100 M ditembak pakai amunisi yang melempem jadinya gak beda jauh seperti panci kena sambit kelereng. Bukannya tembus malah memantul.


Dalam hal kerangka, musket punya ketahanan yang lemah. Barrelnya dibuat panjang dengan tujuan agar pelurunya bisa bergerak lurus. Tetapi dengan diameter yang kecil dan ketebalan barrel yang minim (gak ada standar baku yang mengatur ketebalan barrel musket), keawetannya jadi masalah.


Jika dari awalnya barrel sudah tipis maka saat berkarat musket bisa berbahaya ketika dipakai. Bukannya menembakan peluru justru malah meledak di dekat kepala penembak. Oleh karena itu tak jarang ketika tentara memakai musket tua sering menggunakan mesiu dalam jumlah lebih sedikit agar tidak mengalami kecelakaan. Hanya saja dalam perang besar di Eropa, musket yang dipakai memang yang baru dipesan ke pandai besi.


Akurasi rendah + jarak efektif dekat + daya tahannya lemah sehingga penggunanya memakai lebih sedikit mesiu : lethalitasnya rendah.


Ketika jaman VOC, banyak yang mengklaim orang kebal peluru. Asal tahu saja, selamat dari terjangan peluru musket bukan hal yang WOW. Kalau kena tembak pada jarak lebih dari 100 M masih selamat ya wajar karena memang pelurunya sudah kehabisan tenaga.


Satu lagi yang perlu diperhatikan, VOC itu terkenal korup. Apakah VOC akan dengan teliti membeli musket baru untuk setiap tentara dalam jangka waktu beberapa bulan sekali? Saya ragu. Dan karena itu banyak tentara rekrutan VOC yang memakai musket tua dan seperti dibahas sebelumnya, mereka pakai mesiu dalam jumlah lebih sedikit agar tidak meledak meskipun akhirnya kekuatan pelurunya jadi dikorbankan.


Kurang lebih begitu alasan kenapa bisa banyak orang kebal. Bukan karena kebal tapi karena memang senjata apinya payah. Coba orang kebal itu hidup pada abad 20, dimana tentara memakai M16 dan Kalashnikov yang akurasinya lebih baik dan jangkauan pelurunya lebih jauh pasti gak bisa berkutik.


Sumber : Sniper rifle : from the 19th to 21th century karya Martin Pegler.




Komentar

Postingan Populer