Melihat politik apartheid : adakah sisi positifnya?

 Alkisah ada suatu negara di Benua Afrika yang dahulu terkenal akibat segregasinya yang tanpa ampun. Ruang publik sering terbagi antara 2 warna kulit berbeda. Bahkan kolam renang pun terasa kotor bagi kulit tertentu jika sebelumnya dipakai oleh ras berbeda.


"Ada ya negara yang seperti itu?"



Namanya Afrika Selatan. Sejak tahun 1948 sampai 1994, negara itu menerapkan sistem yang memisahkan 2 ras berbeda. Satu pertanyaan muncul. 


"Kenapa sistem seperti itu bisa bertahan sangat lama? Padahal Kulit hitam lebih banyak daripada kulit putih"


Jawabannya cukup kompleks tapi ingat hal ini, apartheid sebenarnya bukan cuma memisahkan ras tetapi juga etnis berbeda. Terlalu simplifikasi jika kita mengatakan kulit putih menindas kulit hitam meskipun memang sesuai fakta.


Alasan paling mendasar mengapa kita menyebut kulit hitam ditindas karena kita melihat dengan standar Barat seperti kebebasan berpendapat, berkeluarga, berwirausaha dan lain-lain. Hal yang tadi kusebut terbilang tabu. Seorang kulit hitam bisa dibilang gila jika Ia minta pendapatnya didengar oleh pejabat kulit putih, menikahi wanita kulit putih, dan membahas bisnis dengan pebisnis kulit putih.


Hal unik yang jarang dibahas adalah pemisahan ini justru disetujui oleh para elit kulit hitam karena bisa mempertahankan kekuasaan mereka. Ingat sebelumnya saya bilang apartheid selain memisahkan ras juga memisahkan etnis berbeda. Suku-suku lokal asal Afsel tergolong primordial. Satu hal yang sering jadi momok bagi mereka adalah terjadinya akulturasi sehingga budaya mereka tidak murni lagi.


Ketika mereka melihat orang dengan warna kulit sangat berbeda. Xenofobia pastilah muncul. Xenofobia tidak hanya terjadi pada kulit hitam tetapi juga sesama kulit putih sehingga muncul Perang Boer.


Akibat dari perang itu, bisa dibilang jadi inspirasi apartheid. Segala macam hal yang bisa jadi biang kerok gesekan antar etnis harus dihilangkan. Pernikahan antar etnis, lowongan kerja, pembangunan tempat tinggal. Jika anda seorang kulit hitam dari suku Bantu lalu ingin tinggal di daerah suku Pigmy meskipun sesama kulit hitam harus meminta izin pemerintah pusat. Hal ini untuk meminimalisir konflik yang potensial.


Rumit yah? Tetapi berkat apartheidlah Afsel cenderung aman jika dibandingkan negara Afrika yang jadi tetangganya. Mozambik dan Bostwana sering terjadi konflik etnis. Beberapa diantara warganya kelak mengungsi ke Afsel.


Wajar saja jika dunia mencerca pemerintahan apartheid. Tapi keberhasilannya menjaga stabilitas patut diacungi jempol. 


Kawasan kulit putih didominasi kawasan industri dan hanya bisa dimasuki kulit hitam yang berstatus pekerja. Terkesan tidak adil tetapi pada saat yang sama daerah kulit hitam punya banyak kawasan pertanian, dan pemerintah pusat menyediakan petugas keamanan agar tidak ada etnis lain yang masuk dan berbuat onar. Warga kulit hitam bisa memasok daerah kulit putih dengan berbagai produk. Alhasil Afrika Selatan punya ekonomi yang cukup bagus berkat stabilitas yang dibangun pemerintah apartheid.


Sistem apartheid memanglah tidak etis tapi jika melihat konflik etnis di Rwanda, perang etnis Huttu vs Tutsi, dan berbagai konflik di negara Afrika yang lain maka apartheid bisa dibilang lesser evil. Dianggap baik karena yang lainnya lebih buruk makanya bisa bertahan selama puluhan tahun.


Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Apartheid


Why nations fail : Daron Acemoglu


Price of prosperity : Todd G Buccholdz

Komentar

Postingan Populer