Masa lalu seorang tentara bayaran.
Author : Rahman Maulana Idris
Rumah-rumah terbakar. Bau jelaga menyebar tertiup angin. Beberapa orang berkulit hitam dengan pakaian loreng berlutut sambil menempatkan kedua tangannya dibelakang kepala dibawah todongan ratusan senapan mesin.
Seorang pria bertubuh kekar memandang tawanannya dengan pandangan menghina. Tidak ada tawanan yang berani membalas tatapannya. Pria itu membuka suara...
"Kalian tahu siapa kami?"
Hening. Para tawanan tahu tidak ada gunanya mereka menjawab meski mereka tahu sedang berhadapan dengan siapa.
"Kami pasukan Blackwater. Misi kami sekarang menangkap siapa yang sekiranya menjadi pemimpin Boko Haram setelah Mobutu dihabisi."
Pria itu menoleh ke salah satu tawanan yang wajahnya cukup dikenali dan menarik kerahnya. "Kau yang bernama Xolelwa. Kemungkinan besar kau juga yang akan diserahkan kepercayaan jika Mobutu sempat menyerahkan kekuasaannya". Pria berkulit hitam itu gemetar "saya tidak tahu apa-apa. Saya bergabung dengan Boko Haram karena mereka mengancam akan menjual anak gadis saya"
"Dengar saya anjing kudisan! Kami sudah menginterogasi korban yang kami selamatkan dari desa yang jadi korban kalian. Kau telah menggagahi wanita yang jadi tawanan. Betapa menjijikannya dirimu, jika kau takut terhadap kelompok Boko Haram maka jangan tiru kebiadaban mereka tapi lawanlah mereka!"
Xolelwa dihempaskan dengan kasar ketika salah satu prajurit datang membawakan beberapa sampel foto. Ketika Ia melihat foto beberapa anak kecil, pikirannya melayang.
"Ayah aku ingin membeli es krim". Seorang pria bertubuh tambun itu tersenyum. "Kau baru saja makan hotdog, nanti saja setelah ayah ambil gaji di ATM". Seorang wanita menimpali, "jangan terlalu sering dituruti Arthur, nanti dia sebesar dirimu loh", "hanya sekali ini saja Rebecca". Arthur tahu istrinya sebenarnya memberinya saran agar sering berolahraga secara tidak langsung. Namun tetap saja Ia tidak tega melihat William berkaca-kaca ingin es krim. Ia meninggalkan anak istrinya untuk menghampiri ATM.
Ketika sedang melakukan transaksi, Arthur merasa aneh. Kaca ATMnya bergetar seolah ada gempa. Refleks Ia melihat luar dan alih-alih melihat orang berlari ke tengah jalan, justru kebanyakan orang melihat ke atas dimana ada 2 pesawat sipil terbang rendah.
"Astaga pilotnya pasti mabuk"
"Apa yang terjadi? Sebuah pesawat terbang rendah didaerah padat penduduk?"
Atmosfer keheranan berubah menjadi mencekam ketika salah satu pesawat menabrak salah satu gedung setinggi 550 meter. Terdengar teriakan dan diikuti massa yang berlarian menghindari reruntuhan. Arthur hendak lari tapi ingat dengan William dan Rebecca. Ia mencoba menghampiri anak istrinya yang gemetar dengan terseok-seok akibat berat badannya.
"REBECCAAAAA! WILLIAAMMM!"
3 meter sebelum Ia sampai, sebuah batu menimpa anak istrinya. Arthur terjerembab, dunia serasa berputar dan Ia mendadak pucat ketika melihat tangan William. Tangan yang sebelumnya menarik-narik kemejanya kini berlumuran darah. Arthur mencoba mendorong batu itu, namun apa daya Ia menyesali kenapa Ia jarang latihan fisik seperti yang disarankan istrinya. Ia mencoba mendorong batu sekuat tenaga, berharap bisa mengalirkan seluruh tenaganya namun airmatanya keluar lebih kuat.
"Kapten Arthur? Apa yang harus kami lakukan?"
Arthur yang memegangi foto anak kecil rupanya tidak sadar kalau airmatanya menetes perlahan. Ia mengusap matanya dan berkata...
"masuk dalam keadaan buta dan keluar dalam keadaan bisu"
Anak buahnya tahu artinya. Jangan ada saksi.
Dalam sekejap terdengar suara rentetan tembakan dibarengi dengan pantulan cahaya. Rumput hijau kini didominasi warna merah. Sekarang desa itu hening dan hanya diisi suara jangkrik. Para tentara itu kembali ke markas meninggalkan onggokan tubuh tak bernyawa.



Komentar
Posting Komentar