JANGAN UNGKAPKAN KEJAHATAN ATASAN, KAWAN
Author : Rahman Maulana Idris
Hendarto berdiri dengan tegang dihadapan atasannya, Kolonel Heris. Suara jangkrik mewarnai percakapan mereka. Angin malam berhembus pelan diantara ventilasi membawa udara dingin.
"Dari pengintaianmu, apa yang berhasil kamu temukan?"
Dengan posisi mantap Hendarto berujar...
"6 bulan yang lalu saya menerima 30 peti berisi amunisi. Dan pada saat yang sama saya diberitahu jika ada pengkhianat yang bersembunyi disalah satu batalyon yang dikirim ke zona konflik Poso."
Heris bertanya "darimana kau tahu ada pengkhianat?" "uji selongsong dan juga pengakuan jika ada beberapa prajurit yang kekurangan amunisi. Selain itu, beberapa senapan serbu yang dimiliki kelompok militan sangat identik dengan yang dipakai TNI."
Heris mengangguk lalu mengangkat tangannya agar Hendarto mau lanjut bercerita.
"Dari 30 peti amunisi yang dikirim ke 3 batalion berbeda. Setiap 10 peti saya tandai dengan bentuk silang ditempat berbeda, ada yang ditandai dibagian tutup, dibagian samping dan dialasnya. Kemudian selama beberapa bulan, ada beberapa intel militer yang menyusup untuk meneliti karakteristik peti amunisi yang diselundupkan dan sesuai dugaan, peti-peti itu memiliki tanda dibagian bawahnya."
"Dari batalion mana itu?"
Hening sejenak, lalu Hendarto menjawab...
"Batalion anda"
Kolonel Heris mengangkat wajahnya dan memperhatikan Hendarto. Tangannya yang sebelumnya menulis beberapa dokumen langsung menyimpan penanya ke samping. Suasana berubah tegang, dan Kolonel Heris membuka suara...
"Kamu menuduh batalionku sebagai sarang pengkhianat?"
Hendarto merasa kikuk. Namun setidaknya dengan pembicaraan empat mata seperti ini, Ia berharap bisa meminta bantuan dari Kolonel Heris bila dibanding jika diadakan pemeriksaan terhadap para personel secara mendadak.
"Saya tidak menuduh tapi entah kenapa bukti yang didapat malah mengarah pada bawahan anda. Saya sudah pelajari struktur anggota dan hanya ada seorang warga lokal yang bertugas disini."
"Kalau yang kau maksud adalah Daeng Mantira, kau salah besar. Dia justru yang paling loyal disini. Dia berjuang untuk melindungi keluarganya dari kekejaman kelompok militan."
"Setidaknya izinkan saya untuk menyelidiki Sersan Mantira, dia bagian administrasi pastilah dia berhubungan dengan militan."
"Kau tidak usah buang-buang waktu mencari pengkhianat. Bilang saja garnisun disini teledor sehingga sering terjadi pencurian amunisi!"
Kolonel Heris menepuk mukanya menghadapi sikap keras kepala Hendarto. "Hendarto tolong jangan buat reputasi militer semakin merosot. Tahun lalu, politisi keparat menuntut agar anggaran militer dialihkan ke beberapa sektor. Kau tahu apa artinya itu? Gaji yang akan didapat anggota TNI menjadi berkurang. Padahal kamu lihat sendiri banyak dari mereka yang bertaruh nyawa menjaga rakyat. Para politisi sialan itu hanya tahu cara memerintah dari ruangannya yang nyaman."
Hendarto membela diri "saya mengusut pengkhianat itu agar perang tidak semakin berlarut-larut. Saya juga peduli terhadap bawahan anda. Anda lebih mementingkan reputasi daripada keselamatan bawahan sendiri."
Kolonel Heris memberi pertanyaan aneh "apa hubungan antara harga dan permintaan?". Hendarto mengira Kolonel Heris senewen "Pak, tolong tarik nafas yang dalam!"
Kolonel tak mengacuhkan Hendarto dan langsung berujar "tentara dilatih untuk membunuh. Satu-satunya cara agar mereka dibutuhkan adalah dengan memastikan keberadaan orang-orang yang harus dibunuh!"
Hendarto mulai merasa tidak enak "Kolonel, tolong jangan beritahu saya jika......"
Mata Kolonel Heris berkilat kejam "Ya, sayalah pengkhianat yang kamu cari. Sebagai atasan yang baik, saya memikirkan bagaimana agar bawahanku hidup layak. Konflik horizontal ini adalah ajang yang tepat agar bawahanku bisa mendapat tambahan penghasilan. Saya sering membaca biografi prajuritku, dan banyak dari mereka yang dulu hidup kekurangan. Mereka berjuang agar bisa menjadi tentara dan kau tahu betapa hancurnya hati mereka saat beberapa politisi menyerukan pengurangan anggaran militer. Kau pikir kami lemah sehingga peperangan berlangsung lambat. Tidak! kami bisa menang dalam waktu seminggu tapi apa untungnya? Justru dengan adanya konflik ini kami bisa mendapat tambahan gaji. Apa untungnya jika perang ini berakhir? Tidak ada! justru kami akan dikucilkan dan dianggap beban anggaran."
Kolonel menepak mejanya sangat keras sebanyak 3 kali, dan Sersan Mantira memasuki ruangan.
"Mantira, si dungu ini tidak sengaja memberitahu pihak militan lokasi arsenal kita. Habisi dia!"
Hendarto terperangah "Tunggu Mantira! Kau tak paham. Kolonel yang selama ini memberi senjata pada militan. Kamu harus membantuku menangkapnya!"
Tidak ada perubahan ekspresi pada Mantira. Hendarto mengharapkan ekspresi marah namun yang didapat justru ekspresi sendu.
Mantira mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada Kolonel Heris. "Ada 2 orang yang mati malam ini dan salah satunya anda Kolonel"
Wajah kolonel merah padam "kamu habis mabuk yah? Hendarto yang harus kamu eksekusi!". Segaris airmata muncul dipipi Mantira "kemarin saya tak sengaja membuka suratmu. Saya menemukan nama dan paraf pemimpin militan dan isi surat itu berterimakasih atas pasokan mesiu yang kamu kirim."
Kolonel Heris baru ingat kalau dia sendiri merasa aneh melihat surat yang telah terbuka dan dia menganggap jika dirinya lupa menutup amplop surat itu dengan benar.
Terdengar suara kokangan pistol. "Istri dan anakku kemarin ikut terbakar dalam pasar yang dibakar militan. Selama ini aku berjanji melindungi mereka namun rupanya aku gagal."
Terdengar 3 letusan, dan dada Kolonel Heris mulai mengeluarkan darah. Sembari mengumpat tak jelas, kolonel menunjuk-nunjuk Mantira. Dengan wajah jijik, Mantira menembak sekali lagi dan pelurunya menembus kepala atasannya.
Hendarto gemetaran. "Bajingan, apa yang kau perbuat? kau membunuh atasanmu sendiri!"
Rasa gemetar Hendarto terhenti setelah ingat Mantira menyebut 2 orang akan mati. Hendarto merogoh pinggangnya dan tiba-tiba dia ingat kalau dia tak membawa senjata.
"Tenang saja kawan. Bukan kamu orang kedua yang kumaksud. Dia masih hidup."
"Siapa dia? Aku akan menahanmu agar tidak membunuhnya."
Mantira berurai airmata "Bolehkah aku meminta satu permintaan?"
Hendarto tetap membeku lalu Mantira melanjutkan bicaranya "Yang dikatakan Kolonel benar. Jika reputasi militer hancur ada kemungkinan dukungan terhadap para militan itu semakin kuat. Aku harap cukup anak-istriku yang jadi korban. Aku tahu rasanya pahit tapi jauh lebih baik jika tersebar berita jika Kolonel Heris dibunuh bawahannya yang tengah mabuk daripada kejahatannya terbongkar."
Mantira menatap Hendarto dan bersuara lirih "tolong lakukanlah permintaan terakhirku!"
Hendarto tiba-tiba paham.
"BERHENTIIIIII"
Kepala Mantira meledak setelah Ia menempatkan pistol dipelipisnya.
Suasana hening kini dibalut aroma anyir darah dan asap mesiu. Beberapa prajurit menyerbu masuk tepat sebelum Hendarto jatuh pingsan.



Komentar
Posting Komentar