Benarkah angka kemiskinan semakin membesar?
Dulu banyak berita yang membahas mengenai kelaparan di Afrika. Banyak foto tentang anak kurus yang terkena busung lapar meminta makanan berseliweran di media massa. Lalu pada saat yang sama sering ada berita tentang pengusaha yang membeli kondominium bahkan pulau pribadi. Sekarang yang jadi pertanyaan, benarkah kemiskinan semakin membesar dan kesenjangan sosial semakin parah?
Suatu media massa yang menyajikan berita biasanya menyajikan berita yang akan menarik minat dan emosi pembacanya. Tentang kelaparan misalnya, kalau jeli baca statistik justru di zaman sekarang lebih banyak orang yang meninggal karena kegemukan akibat terlalu banyak makan. Hanya saja penyakit kegemukan terlalu umum untuk jadi bahan berita, begitu juga berita tentang kecelakaan. Saya yakin anda bisa menebak, lebih sering dan lebih heboh mana antara berita kecelakaan mobil dengan kecelakaan pesawat?
Begitu juga tentang fenomena kesenjangan sosial yang sering muncul di berita. Kaya dan miskin itu relatif kawan, apa sih satuan yang membedakannya? Seorang dokter dari Swedia yang bernama Hans Rosling pernah membuat statistik tentang gap kekayaan di dunia dengan menggunakan patokan yang umum digunakan :
1. Berapa banyak yang menggunakan air bersih dari mata air dengan yang membeli air mineral?
2. Berapa banyak yang tidak punya kendaraan, memiliki sepeda, memiliki sepeda motor, memiliki mobil?
3. Berapa banyak yang menggunakan tungku kayu bakar, kompor minyak, dan kompor gas?
4. Berapa banyak yang makan menggunakan piring dari tanah liat, piring plastik, dan piring keramik?
Hans Rosling membagi tingkatan kekayaan menjadi 4 tingkat :
1. Bawah
-mendapat air dari mata air
-tidak punya kendaraan
-memasak dengan tungku kayu bakar
-menggunakan piring dari tanah liat
2. Menengah ke bawah
-mendapat air dari mata air
-memiliki sepeda
-memasak dengan kompor minyak
-menggunakan piring plastik
3. Menengah ke atas
-mengonsumsi air mineral
-memiliki sepeda motor
-memasak dengan kompor gas
-menggunakan piring keramik
4. Atas
-mengonsumsi air mineral
-memiliki mobil
-memasak dengan kompor gas
-menggunakan piring keramik
Hans Rosling melakukan riset dengan mengumpulkan data dari seluruh dunia dan hasilnya :
1 miliar orang termasuk kelompok bawah, 3 miliar orang termasuk kelompok menengah ke bawah, 2 miliar orang termasuk kelompok menengah ke atas, 1 miliar orang termasuk kelompok atas (ada gambarnya dibawah).
X : "Lalu bagaimana dengan miliarder yang punya pulau pribadi? Apakah mereka masuk ke kelompok 'lebih atas'?"
Rahman : "Sekali lagi itu permainan media massa, siapa sih yang gak ngerasa WOW waktu ngeliat ada pulau yang bisa dibeli? Lagian juga statistik yang dibuat Hans Rosling itu mencakup seluruh dunia dan kasus jual-beli pulau emangnya umum? Kalaupun ada pasti negara penjual pulau punya pemimpin korup bin otoriter. Selain itu Hans Rosling membagi tingkat kekayaan menjadi 4 bagian dengan parameter yang umum seperti bagaimana manusia mendapat air, memasak makanan, berpindah tempat, emangnya membeli pulau termasuk hal wajar? Yang ingin ditekankan Hans adalah seberapa parah kesenjangan sosial yang sebenarnya didunia"
X : "bagaimana dengan rumah? Banyak yang rumahnya dari kulit bambu dengan bata dan yang lebih atas bisa punya kondominium, kenapa gak dibagi juga?"
Rahman : "Rosling tidak memasukan rumah karena menurutnya rumah tidak punya satuan baku. Manusia membuat rumah mengikuti bahan bangunan yang tersedia serta kondisi iklim di daerahnya dan bukan karena pendapatan. Orang yang tinggal di daerah yang beriklim panas dan kering biarpun punya duit banyak pasti gak keberatan bikin rumah yang nyaman dari tanah liat karena bisa menolak panas. Begitu juga orang Eskimo yang iklimnya dingin bakal bikin iglo dari es yang dipahat, coba kalau buat rumah make semen dan batu pasti rumahnya berat terus ambles nembus lapisan es"
Sekarang dengan melihat statistik, kita harus bersyukur karena sebagian besar manusia di Indonesia termasuk kategori menengah ke atas. Kalau kita melihat sejarah, banyak dari kakek-nenek kita yang di masa ORLA maupun ORBA yang termasuk ke kelompok bawah dan sedikit yang masuk ke kelompok menengah ke bawah. Setelah sekian lama banyak Orang Indonesia yang mulai meninggalkan kemiskinan dan kini kita lebih sering melihat orang yang masuk kategori menengah ke atas.
Bandingkan dengan negara lain yang sebagian besar penduduknya termasuk kelompok bawah dan menengah ke bawah, menurut anda Indonesia sedang dilanda kemiskinan parah atau tidak?
Silahkan merenung.
Sumber : buku Factfulness : ten reason we are wrong about the world and whu things are better than you think karya Hans Rosling



Komentar
Posting Komentar