Special Operations Executive : sekolah pelatihan agen Inggris semasa perang dunia kedua.
Dalam peperangan ada 2 jenis pertempuran yakni pertempuran garis depan dan sabotase. Pertempuran garis depan memerlukan pasukan reguler dalam jumlah besar sementara sabotase memerlukan sedikit pasukan yang kualitasnya diatas rata-rata.
Inggris pernah membangun sekolah untuk melatih para agen. Namanya Special Operations Executive. Meski bernaung dibawah militer, lembaga ini punya 2 perbedaan mendasar. Pertama para calon agen yang masuk ke sekolah ini tidak tahu kalau Ia akan menjadi agen, dan yang kedua pelatihannya jauh lebih keras dibanding militer biasa.
Ketika awal memasuki gedung, hanya ada wawancara kerja seperti biasa dan jika tes psikologis menunjukan objek wawancara tidak punya cukup kecerdasan maupun mental maka akan ditolak secara halus. Tetapi apabila diterima, maka para rekrutan baru ini akan diterima dan menjalani tes pertama yaitu berjalan kaki ke tempat pelatihan dan lucunya jalannya sama sekali gak mulus, ada yang berupa lumpur, ada yang diberi kawat sehingga harus tiarap dan ada juga sungai ganas yang harus direnangi. Jika berhasil, selamat anda telah menjadi bakal calon agen. Jika gagal ya pulang, itupun kalau gak mati tenggelam di sungai.
Ketika di sekolah ada 3 tahap untuk bisa lulus dan jika ternyata gagal lulus biasanya ada 2 pilihan antara dikirim jadi petani ataupun membantu militer digaris depan. Tujuannya agar latihan di SOE gak bocor ke publik. Pelatihannya memang agak lain, agen dilatih untuk menembak dengan pistol yang masih di sekitar pinggang, tidak begitu akurat jika dibanding dibidik terlebih dahulu tapi setidaknya anda bergerak lebih cepat. Lalu ada juga beberapa preman yang dibayar untuk mengajarkan cara bertarung jalanan kepada para agen. Ada juga residivis yang dilatih untuk mengajarkan cara menjebol brankas, pintu, menduplikasi kunci dll.
Dan pelatihan yang paling krusial itu pelatihan terjun payung, bahasa asing serta sabotase. Agen yang sudah lulus akan diterjunkan didaerah jajahan Nazi dan menyabotase berbagai perangkat militer. Agen dilatih untuk membuat peledak, mencongkel rel kereta secara cepat dan memutus kabel telepon.
Ketika sudah lulus, para agen diberi identitas palsu yang harus Ia ingat. Identitas itu penentu keberhasilan misi sekaligus keselamatannya. Dan instruktur mewanti-wanti agen untuk selalu waspada. Pernah ada agen yang tertangkap Gestapo karena memesan "a cafe noir" (kopi hitam tanpa krim), hal ini memancing kecurigaan karena saat itu krim sedang langka dan penduduk Prancis memesan kopi hanya dengan sebutan "cafe".
Dalam hal penyamaran juga para agen ini berlatih pada pemain teater bagaimana cara berperilaku seperti orang udik, berjalan pincang, memasang jenggot palsu. Apabila seorang agen menjadi target perburuan, ada beberapa agen yang dilatih untuk menjadi dokter bedah plastik. Bahkan beberapa agen memodifikasi wajahnya agar sangat mirip dengan Orang Jerman.
Dari ribuan agen yang dikirim hanya ada beberapa yang berhasil kembali dan menceritakan kisahnya. Banyak yang gugur demi mencegah Nazi menguasai Eropa. Meski begitu, kiprah SOE gak bisa dianggap enteng. SOE meledakan pabrik kapal selam di Prancis, membunuh salah satu ajudan HitlEr di Cekoslowakia, merusak jalur suplai di Polandia dan Yunani, menghasut Rakyat Italia untuk memberontak. Maka tak heran jika Churchill sangat bangga dengan sekolah agen yang Ia dirikan. Sampai ada satu kalimat....
"Perang dunia dimenangkan sekutu berkat industri Amerika, darah Rusia, dan intelijen Inggris"
Sumber : Stephanie Bearce. 2015. Top Secret files world war 2. Texas. Prufrock press Inc.




Komentar
Posting Komentar