Pertumbuhan ekonomi : win-win solution???
Selama berbulan-bulan sering terdengar netizen mengeluh mengenai sulitnya hidup. Ada yang membahas mengenai inflasi dan ada juga yang menyindir mengenai betapa timpangnya kelas elit dan bawah. Lalu ada yang mempertanyakan seberapa jujur negeri kita dalam memberi janji pertumbuhan ekonomi???
Ingat yah, sumber masalahnya bukan janji pertumbuhan ekonominya ditepati atau tidak tapi lebih ke gagal paham tentang pertumbuhan ekonomi.
Ambil contoh 5 orang anak memandang sebuah kue berbentuk lingkaran (360°). Anak yang paling kaya memiliki setengah dari kue itu (180°) sementara setengahnya lagi dibagi rata antara 4 orang anak (180°/4 = 45°). Nah pertumbuhan ekonomi itu ibarat win-win solution. Daripada anak yang paling kaya menyisihkan sebagian kuenya untuk mencukupi anak yang kekurangan maka lebih baik ukuran kuenya diperbesar. Jadi biarpun persentasenya sama tapi hasil yang didapat lebih banyak.
Hanya saja mindset orang tidak mampu sering mempersulit hidup mereka. Menolak kontrasepsi dengan harapan akan banyak yang mengurus mereka ketika tua padahal dengan bagian "kue" yang kecil maka anak mereka juga akan mendapat bagian yang lebih kecil lagi. Ditambah pola pikir yang menganggap remeh pendidikan skill, meskipun skill yang dipelajari bisa membuatnya mendapat bagian "kue" yang lebih besar.
Kalau ditanya bagaimana ekonomi Indonesia, ya menurut statistik memang tumbuh kok tapi timpang. Lalu jika ingin mengadakan pemerataan ekonomi maka itu sama saja menabuh gendang perang dengan oligarki yang mengendalikan pemerintahan. Sudah jadi rahasia umum yang duduk di lembaga pemerintahan adalah konglomerat ataupun suruhannya. Masa iya mereka membuat kebijakan untuk memiskinkan diri sendiri. Kalaupun ada sosok yang berani menentang para oligarki ini, maka siap-siap saja akan ada demonstrasi besar-besaran untuk menggoyang pemerintahan.
Satu-satunya yang bisa menolongmu dari kemiskinan hanyalah dirimu sendiri. Ajarilah diri dan anakmu menjadi sosok yang tangguh. Kalau kakostokrasi lebih suka melindungi asetnya dibanding rakyat yang jadi sumber pendapatan maka abaikan saja mereka.
Kalau tidak ada tempat bersandar maka itu artinya kamu harus berdiri diatas kaki sendiri.
Sumber :
Muchtolifah. Ekonomi Makro. Bandung. Unessa press.
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.bps.go.id/pressrelease/2023/02/06/1997/ekonomi-indonesia-tahun-2022-tumbuh-5-31-persen.html%23:~:text%3DEkonomi%2520Indonesia%2520tahun%25202022%2520tumbuh%2520sebesar%25205%252C31%2520persen%252C%2520lebih,Pergudangan%2520sebesar%252019%252C87%2520persen.&ved=2ahUKEwj4so7l7aL-AhX0-TgGHcKAAk8QFnoECAkQBQ&usg=AOvVaw2H_95U4zYJ5v-5_4W-tKI5



Komentar
Posting Komentar