Pertanian, kesalahan paling fatal atau kemajuan paling hebat.

Pertanian bisa dibilang faktor paling vital dalam membangun peradaban. Banyak peradaban besar yang lahir di tanah yang subur mulai dari Sumeria, Hindustan, hingga Nusantara. Pertanian meski kerap diremehkan dimasa kini namun berdampak besar dimasa lalu karena telah mengubah gaya hidup food gatherer menjadi food producer.


Kalau sedang nganggur daripada iseng nyolong di kebun orang, Coba kalian cari mengenai bentuk tubuh manusia purba yang hidup dizaman food gathering. Mayoritas bentuk tubuhnya kecil namun berotot jika dibandingkan dengan manusia sekarang yang cenderung tambun atau kerempeng. Bentuk tubuh mungil bin atletis itu dimiliki mereka berkat 2 hal yaitu kebutuhan menghindari predator dan tercukupinya nutrisi yang diperlukan tubuh.



Perlu kalian ingat dizaman food gathering, manusia tidak sebanyak sekarang. Masih banyak binatang buas yang siap memangsa manusia. Dan setiapkali berburu biasanya paling sedikit satu orang anggota suku akan menjadi korban karena fisiknya yang terlampau lemah ataupun tubuhnya tambun sehingga tidak bisa meloloskan diri dari predator. Tingkat kematian dalam berburu menjadi penyebab rendahnya usia harapan hidup, bisa hidup sampai usia 30 tahun aja pasti udah dianggap Superman. Ironisnya meski kerap memakan korban, hasil food gathering rupanya mampu memperbaiki struktur tubuh mereka karena mereka tidak mengenal istilah makanan pokok, mereka makan apa yang mereka dapat dan hasilnya nutrisi yang mereka dapat jauh lebih komplit daripada kita yang terpaku dengan beras, jagung maupun kentang.


10.000 tahun lalu sekelompok spesies yang sekarang disebut Homo Sapiens lebih memilih memuliakan tanaman ketimbang mengikuti gaya hidup Neanderthal atau Erectus yang mereka anggap terlalu brutal. Satu hal yang membedakan Homo Sapiens dari 2 spesies manusia yang lain adalah kemampuannya menjinakan api dan berakibat pada meningkatnya kecerdasan mereka (nanti saya jelaskan hubungan antara api dan kecerdasan manusia).


Pada awalnya ahli sejarah mengira pertanian berawal dari Timur Tengah lalu menyebar ke seluruh dunia, namun penelitian lebih jauh menyebut jika pertanian muncul secara bersamaan. Di Pulau Jawa, Sapiens bertani jawawut, di Cina mereka bercocok tanam padi, di Amerika selatan dan Eropa mereka hidup dari kentang. Pertanian telah mengubah gaya hidup manusia dari yang tadinya ganas menjadi lebih ramah. Tidak ada lagi cerita manusia disikat buaya, ditanduk banteng, diinjak gajah saat ingin makan daging dan tidak ada lagi cerita manusia jatuh dari pohon, digigit ular dan tenggelam disungai saat ingin makan sayur. Berkat pertanian, usia harapan hidup Sapiens meningkat dan memperbanyak jumlahnya dalam menghadapi Neanderthal dan Erectus. Hal ini menjadi bencana bagi Neanderthal dan Erectus yang tidak secerdas dan sebanyak Sapiens hingga dengan mudah digenosida sampai musnah. Sementara dampak buruk dari pertanian bisa dilihat dari postur tubuh manusia jaman sekarang yang cenderung rapuh dan massifnya penyakit yang muncul.


"Haaaah, pertanian menimbulkan penyakit?????"


Saya enggak bercanda, coba perhatikan pola makan manusia semenjak memasuki zaman agrikultur, manusia cenderung berpola makan homogen. Ada yang seharian makan nasi, jagung, kentang, padahal tingkat glukosanya terbilang tinggi dan bisa memicu penyakit jantung dan diabetes bila dibanding dengan leluhur kita yang jarang terkena penyakit karena makanannya beragam. Kerugian kedua terlihat dari bentuk tubuh manusia yang membesar namun rapuh karena tubuhnya jarang dipakai untuk lari dari predator dan juga memanjat pohon. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri kalau pertanian menjadi katalis bagi lahirnya peradaban manusia, sudah terlambat untuk menerapkan kembali sistem gathering demi mendapatkan tubuh bugar ala Neanderthal. Satu-satunya cara paling masuk akal hanya dengan cara diversifikasi pertanian untuk melengkapi kebutuhan gizi kita.


Sumber : buku Sapiens karya Yuval Noah Harari.

Komentar

Postingan Populer