Edith Cavell, Biarawati yang menjadi martir dalam perang dunia 1.
Edith Cavell adalah nama dari seorang biarawati yang dieksekusi dan menjadi ikon perlawanan Inggris dalam perang dunia 1. Cavell lahir di Inggris dari keluarga pendeta yang mengurus sebuah gereja kecil di pelosok Inggris. Sejak kecil Ia selalu membantu ayahnya untuk mengobati orang yang terkena penyakit. Ketika Ia beranjak dewasa, Cavell tidak mengikuti gaya hidup para wanita Inggris untuk menikah di usia muda. Cavell lebih memilih melanjutkan sekolah ke perguruan medis dan berkat kecerdasannya, Ia dikirim untuk melatih para juru rawat di Belgia. Beberapa bulan Ia mengajar terdengar bunyi dentuman meriam berkali-kali, rupanya kekaisaran Jerman mengirim pasukannya untuk menduduki Belgia agar bisa lebih mudah menyerang Perancis. Awalnya para juru rawat di Belgia menyarankan Cavell agar kembali ke Inggris. Namun Cavell yang mewarisi rasa tanggung jawab ayahnya berujar,
"Ayah saya selama mengurus orang sakit selalu kekurangan waktu untuk tidur, namun Ia tidak pernah merasa lelah dan selalu bersemangat. Karena dengan menolong Orang yang sedang kesakitan, Ia paham betapa bahagianya menjadi manusia yang menebar kebaikan bagi sesamanya"
Cavell dan para juru rawat dibawah bendera palang merah merawat para Tentara Jerman yang terluka dan juga tawanan dari Inggris dan Prancis hingga sehat kembali. Namun ada satu hal yang mengganjal dibenak Cavell yaitu nasib para tawanan yang kerap diperlakukan buruk, Cavell sering melihat proses interogasi tawanan di gereja yang diduduki pasukan Jerman. Bagi Cavell hal ini sangat kontradiktif
"saya menolong orang tapi ketika sudah sehat justru diperlakukan buruk oleh pihak Jerman"
Cavell meminta bantuan pada seorang arsitek bernama Phillipe Baucq dan pangeran De Croy untuk menyelundupkan para tawanan. Phillipe melihat jika pasukan Jerman terkonsentrasi untuk menyerang Perancis sehingga bagian utara Belgia yaitu Belanda dijaga dengan lebih lemah. Phillipe membuat rute pelarian dengan tujuan akhir sebuah pelabuhan darurat untuk mengangkut para tawanan.
Dalam waktu kurang dari setahun, sekitar 200 tawanan berhasil diselundupkan dan menghilangnya tawanan menjadi perhatian pasukan Jerman. Cavell dengan cerdiknya berkilah
"kalau tawanan ada yang kabur jangan nyalahin kita. Salahin penjaga yang teledor"
Perwira Jerman awalnya percaya namun sialnya bagi Cavell, 2 orang suruhan Phillipe tertangkap ketika membawa tawanan ke pelabuhan. Bukti tentang keterlibatan Cavell dan Phillipe sudah berada di tangan pihak Jerman. Hanya kurang sehari, kedua orang itu diciduk tentara. Cavell diinterogasi selama hampir 10 minggu dan terus-terusan menjawab kalau pelarian para tawanan memang rencananya dan Ia sama sekali tidak menyesal dengan perbuatannya. Pihak Jerman yang geram menjatuhi hukuman mati kepada Cavell dan semua orang yang terlibat. Reaksi Cavell tidak seperti yang diperkiraan mereka, Cavell dengan suara tegar berkata,
"saya sudah terlalu sering melihat kematian. Oleh karena itu, kematian bukanlah hal yang menakutkan bagi saya"
12 Oktober dipagi hari, Cavell, Phillipe dan beberapa suster yang dianggap terlibat dieksekusi dengan senapan mesin.
Berita tentang kematian Cavell menyebar ke negara-negara sekutu. Kisah heroik Cavell yang diceritakan para pelarian yang berhasil selamat ke Inggris menjadi buah bibir di masyarakat Inggris. Warga Inggris dan juga Amerika Serikat mendengar dengan pilu tentang gereja yang dijadikan sebagai tempat interogasi, para suster yang ikut dibantai didepan senapan mesin dan yang paling menyakitkan bagi mereka adalah kenyataan bahwa kebaikan Cavell justru dibalas dengan semburan timah panas. Para pemuda Inggris yang awalnya sering ngumpet karena enggak mau dikirim berperang sekarang berbondong-bondong mendaftar ke militer karena bagi mereka Jerman sudah tidak bisa dimaafkan karena telah menodai kebaikan yang diberikan seorang warga negara Inggris.
"Bagaimana di Amerika?"
Menteri luar negeri Jerman menyiarkan pernyataan jika Ia menyayangkan tentang eksekusi Suster Cavell, tapi bagi Jerman kematian Cavell adalah keharusan karena beliau telah bersekongkol melawan pihak Jerman. Mendapat pernyataan tersebut, jelas rakyat negara sekutu bertambah marah, sejarah mencatat kalau kematian Edith Cavell dan tenggelamnya kapal Lusitania adalah tragedi yang menyatukan negara sekutu untuk memasuki perang dunia 1. Slogan yang dikumandangkan pasukan Inggris dan AS ketika berperang adalah,
"Jangan lupakan korban kapal Lusitania dan keberanian Edith Cavell"
sumber : top secret files : world war 1 karya Stephanie Bearce
.jpeg)
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar