Teori konflik internal dalam G 30 S
Dari 3 teori dalang G 30 S ada satu yang tidak begitu terkenal yaitu teori konflik internal TNI AD. Teori ini mengambil kesimpulan kalau pembunuhan para pahlawan revolusi terjadi murni karena kecemburuan para prajurit tingkat bawah dengan perwira tinggi TNI.
Membicarakan teori ini tidak bisa jauh dari operasi dwikora untuk menggagalkan pembentukan Malaysia. Sikap Sukarno bertolak belakang dengan sikap perwira militer, bagi Sukarno jika Malaysia berdiri maka kedaulatan Indonesia terancam maka pembentukan Federasi Malaysia harus digagalkan dengan berbagai cara tetapi bagi para Perwira lebih baik fokus untuk membenahi kondisi dalam negeri.
Sedikit pembahasan mengenai kondisi perekonomian jaman Sukarno, dimasa itu kondisi keuangan masih semrawut, mata uang dari 3 masa yaitu Hindia Belanda, Pendudukan Jepang dan Republik Indonesia dianggap berlaku dan menimbulkan inflasi parah. Selain itu sikap agresif Sukarno juga membuat negara lain jaga jarak dengan mengurangi kegiatan perdagangan. Akhirnya persediaan barang di Indonesia menjadi menyusut.
Jumlah uang banyak + jumlah barang sedikit = inflasi
Inflasi ini membuat mata uang menjadi tidak berharga. Dikota-kota besar sering terjadi antrian panjang untuk mendapatkan barang kebutuhan pokok, sementara itu bagi yang paham dengan nilai ekonomis satu-satunya cara menjaga harta dalam keadaan hiperinflasi yang gila adalah dengan mengalihkannya ke aset tetap yakni tanah. Harga barang semakin lama semakin mahal sementara dengan memiliki tanah setidaknya kita bisa menanam bahan pangan kita sendiri dan harganya tidak mungkin menyusut.
Akibatnya banyak konflik mengenai kepemilikan tanah diberbagai daerah. Kaum kiri suka menyerobot tanah dengan alasan ingin menyejahterakan petani sementara sebagian besar tanah dikuasai oleh pesantren dan lembaga keagamaan. Kalau jaman sekarang orang senggol bacok lawan politik di medsos, jaman ORLA senggol bacoknya make golok beneran, kebayang segimana panasnya jaman ORLA?
Sekarang pindah ke operasi Dwikora, yang dihadapi TNI bukan lawan ecek-ecek loh. Pasukan SAS dari Inggris, pasukan dari Australia dan juga AS ikut turun tangan menjaga Malaysia. Bagi mereka Selat Malaka harus dibebaskan dari pengaruh komunis karena jika jalur pelayaran internasional ini dikuasai maka jalur perdagangan Asia Timur dengan Asia Selatan akan terputus. Oleh sebab itu pasukan Barat dipersenjatai dengan senjata yang canggih untuk menghadapi serbuan TNI.
Sebaliknya TNI justru morat-marit, senjata yang dipakai hanyalah senjata ringan dan hanya mampu melakukan serangan gerilya. Suplai bahan makanan sering tersendat apalagi amunisi. Diam-diam para prajurit ini membandingkan kondisinya dengan para perwira yang tinggal di Jakarta. Mereka mempertaruhkan hidup serba kekurangan diperbatasan sementara para perwira tinggal dengan nyaman bersama keluarganya dan dikalangan para prajurit mulai muncul desas-desus kalau para Perwira itu mengenyam pendidikan di AS jadi tidak mungkin mereka mau mendukung bawahannya melawan pasukan AS di Malaysia bahkan mereka curiga jangan-jangan dana untuk logistik perang sengaja ditimbun agar TNI tidak bisa melancarkan serangan.
Oleh karena itu, ada 2 kemungkinan yang muncul entah prajurit meminta tolong kepada Cakrabirawa atau memang Cakrabirawa yang bersimpati kepada nasib prajurit di Malaysia. Hal ini terindikasi ketika anggota Cakrabirawa tertangkap kebanyakan mereka beralasan para perwira ditangkap untuk "diinterogasi". Anggota Cakrabirawa percaya kalau para perwira itu sebenarnya bersekongkol dengan AS dengan membentuk Dewan Jenderal dan sengaja memperlemah militernya sendiri agar bisa melakukan kudeta dengan lebih mudah. Namun masih banyak yang jadi pertanyaan....
"Apa hasil interogasinya?"
"Mengapa para perwira yang ditangkap secara hidup-hidup justru ikut dieksekusi?"
"Kalau para perwira ini merencanakan kudeta terhadap Sukarno mengapa pada akhirnya Sukarno tetap saja tumbang?"
Dan yang paling utama
"SIAPA DALANGNYA?"
Yah, bagaimanapun ini salah satu teori tentang latarbelakang G 30 S. Ditinjau dari sudut pandang militer memang ada kemungkinan para prajurit tingkat bawah melawan atasannya mengingat nasibnya yang parah. Biarlah sejarah ini menjadi pelajaran bagi bangsa kita agar tetap menjaga kebersamaan.
Sumber : Suar Suroso, 2013, akar dan dalang, Ultimus.



Komentar
Posting Komentar