SURAT CINTA DARI TERPIDANA MATI

Annisa membuka sebuah surat yang dikirim oleh kawan lamanya. Dia mengingat kenangan manis saat sama-sama kuliah kedokteran. Zaenal cukup humoris dan memikat hatinya meski setelah lulus, Ia menghilang selama bertahun-tahun namun takdir kini membawanya kembali kepadanya dalam bentuk tulisan. Anissa membaca suratnya dengan penuh semangat.


"Halo Annisa, sudah bertahun-tahun kita terpisah. Kuharap kau masih ingat denganku yang dulu berbagi suka dan duka mempelajari kedokteran. Kita sepasang insan yang punya cita-cita mulia menolong orang yang menderita"


Annisa tersenyum


"Setelah lulus dan melamar pekerjaan, aku belum sempat memberitahumu alasan kenapa aku kembali ke tanah kelahiranku Aceh. Aku pulang karena aku ingin melindungi keluargaku dari kekejaman gerombolan bersenjata yang kerap menyerang instansi pemerintah dan juga merampok warga lokal."


"aku mampir ke rumah orangtuaku dan alhamdulillah mereka dalam keadaan sehat. Aku berbincang sebentar dan tidak ada yang kutangkap selain ketakutan teramat sangat terhadap pertempuran GAM dan TNI."


"Aku ditugaskan menjadi dokter ke daerah pelosok. Disana aku menemukan banyak anak kecil yang mengalami busung lapar. Awalnya kupikir kemiskinan akutlah yang jadi penyebab Rakyat Aceh melakukan perlawanan. Namun pikiranku terganggu dengan banyaknya sawah yang tidak bisa ditanami dan airnya berwarna hitam. Aku bertanya kepada petani lokal dan hanya mendapat jawaban kalau semenjak air menghitam, panen terus-menerus gagal. Fenomena serupa juga kutemukan pada tambak peternak ikan. Banyak ikan yang mati semenjak air menghitam. Hal ini menimbulkan kecurigaanku. Diakhir pekan, aku nekat menggunakan sepeda motorku menuju hulu sungai dan meski dihalangi oleh sekelompok aparat bersenjata, aku menemukan jika terdapat penambangan minyak bumi yang beroperasi disana. Namun aku berani bersumpah kalau limbah minyak itulah yang membuat lingkungan hidup di pedesaan rusak. Semenjak itu aku bertanya-tanya siapa yang seharusnya kubela? Saudaraku yang kesusahan atau tanah air?"


Jantung Annisa berdegup lebih kencang ketika membaca paragraf selanjutnya.


"Rasa kemanusiaan membuatku memilih jalan yang terjal. Aku sadar jika aktivitas penambangan minyak tidak dihentikan maka hanya perlu menunggu waktu keluargaku akan mati kelaparan akibat gagal panen yang terus berulang. Aku bergabung dengan GAM dan menjadi intel mereka karena dengan profesiku, aku bisa membaur diperkotaan. Diperkotaan selama diriku membaur, aku melihat berbagai wajah yang dimiliki anggota TNI. Wajah-wajah manusia lugu yang dipekerjakan oleh elit korup untuk memerangi mereka yang mengancam hartanya. Lucunya aku sama sekali tidak membenci mereka, karena bagiku mereka hanyalah korban sama seperti rakyat daerah pelosok yang setiap hari mengikat perutnya akibat minimnya bahan pangan."


Annisa bisa membayangkan Zaenal yang mengalami dilema.


"Aku melihat berbagai peristiwa mengerikan selama di kota. Sering terjadi pembakaran kendaraan umum, pembagian selebaran yang berisi pernyataan jika Aceh dijajah dan pembalasan dari militer juga mengerikan. Banyak desas-desus mengenai orang hilang dan juga pembakaran rumah warga lokal. Balasan dari militer membuat banyak warga Aceh bersimpati terhadap GAM."


"Aku kerap berkunjung ke markas perlawanan untuk memberi informasi dimana saja daerah yang rentan untuk diserang. Para pemuda yang seharusnya mengenyam pendidikan kini terlihat memanggul Kalashnikov, mereka tidak seberuntung diriku yang bisa menjadi dokter karena kemiskinan akut. Namun dalam hal keberanian, kuakui mereka jauh lebih berani dibandingkan denganku."


"Naas salah satu anggota mereka tertangkap dan diinterogasi hingga membocorkan markas kami. Kami semua diserang, berhubung aku tidak memegang senjata jadi mereka menahanku. Tapi aku yakin mereka tidak akan mengizinkanku hidup atas keterlibatanku."


Annisa mulai merasa tidak enak dan matanya berkaca-kaca.


"Awalnya aku memiliki kemungkinan dijadikan tahanan karena dianggap bisa dibina. Namun ketika melihat serangan terhadap tempat yang sebelumnya kubocorkan ke para pemuda ternyata merenggut banyak nyawa. Aku sadar kalau tanganku juga berlumuran darah. Aku menyesal saat itu juga. Ketika aku dihadapkan dengan hukuman mati. Aku hanya mengangguk dengan perasaan pahit. Permintaan terakhirku sebelum aku dieksekusi adalah aku ingin menulis surat untuk wanita yang dulu membuatku hidupku indah."


Airmata Annisa meleleh.


"Terimakasih Annisa telah mengajarkanku indahnya rasa cinta. Bolehkah aku meminta satu hal? Setelah aku pergi, setiap syaraf diotakku tidak akan mampu mengingatmu namun kau bisa mengingatku. Jangan lupakan pria yang dulu selalu mengagumi senyummu."


"Kuharap dikehidupan kedua, kita kembali dipertemukan. Di dunia yang tidak mengenal airmata dan kebencian."


Annisa hanya bisa berkata lirih...


"Aku tidak akan melupakanmu, Zaenal"




Komentar

Postingan Populer