Siasat naga : membangun ekonomi dengan melemahkan mata uang sendiri.

Ada satu momok yang sering menghantui pedagang dalam negeri yaitu barang made in Cina yang murah. Banyak rumor beredar mulai dari isu pekerja Cina yang diupah sangat rendah sampai isu kalau Kunchantang menyusupkan orang ke pemerintahan agar membujuk pemerintah untuk menyubsidi barang made in Cina sehingga harganya bisa murah. Ternyata ketika membaca bukunya Wang Xiang Jun yang berjudul China's Megatrend, jawaban harga barang Cina bisa murah karena mereka sering melemahkan mata uangnya sendiri. 


Sebelumnya saya nulis tentang trillema dan Cina mengikuti skenario dimana kurs stabil ditambah mata uangnya mandiri namun mengorbankan kebebasan aliran valuta. Perhatikan dua kata yaitu kurs dan mata uang, Cina dengan mata uangnya Yuan bisa dengan mudah melemahkan mata uangnya sendiri dengan cara mencetak Yuan untuk ditukar dengan valuta asing yang tersimpan di bank lokal agar jumlahnya timpang.


Suatu mata uang disebut menguat jika permintaan akan uang itu meningkat ataupun jumlah uang itu menyusut,begitu juga jika melemah berarti mata uang itu tidak begitu diminati karena permintaannya rendah ataupun jumlahnya terlampau besar. Valuta asing yang dibatasi peredarannya mengakibatkan uang lokal menjadi lemah dihadapan valuta asing, butuh sangat banyak Yuan untuk menukar selembar valuta asing itu. Hasilnya barang impor tidak begitu diminati karena memang harganya tinggi dimata Orang Cina.


Contoh biar gampang, kurs Yuan dan Dollar = 5¥ : 1$. Dan pemerintah pusat berencana memborong Dollar dengan Yuan yang baru dicetak hasilnya Dollar berkurang dan Yuan bertambah banyak akhirnya kurs berakhir dengan 10¥ : 1$.


Bagi orang Cina dollar bertambah mahal akibatnya permintaan terhadap barang import ditekan dan pengusaha lokal bisa menarik nafas lega karena pesaing bisa dikurangi. Sementara bagi importir yang membeli barang dari Cina mereka melihat kalau barang Cina semakin murah. Sebelumnya harga komoditi tertentu ambillah ginseng harganya sebesar 2,5¥ perkilo, sebelum terjadi pembelian besar-besaran valuta asing 1$ bisa dipakai membeli hanya 2 kg ginseng (kurs 5¥ : 1$) dan setelah terjadi pembelian valuta asing secara massif 1$ bisa dipakai membeli 4 kg ginseng (kurs 10¥ : 1$). Artinya barang-barang dari Cina memang lebih murah akibat permainan mata uang Yuan. Berkat strategi ini, Cina yang awalnya membatasi masuknya valuta asing secara besar-besaran sekarang sudah mulai membuka diri, hanya saja mereka masih berkuasa penuh terhadap kurs. Kalau seandainya banyak pendatang mengunjungi Cina dengan membawa mata uangnya masing-masing, mereka hanya bisa menukar valutanya dibank yang dikuasai pemerintah dan pemerintah mencetak Yuan lebih banyak dari valuta asing yang masuk, jadi peluang Yuan menguat mendadak bisa dinetralisir.


"kenapa ketika rupiah melemah banyak yang menjerit?"


Jawabannya jelas karena Rakyat Indonesia masih punya permintaan tinggi terhadap barang import. Contohnya kita mengimport kedelai dari AS sebesar 10$/ton dengan kurs 1$ : Rp 10.000 maka kita merogoh kocek Rp 100.000 setiap tonnya. Lalu terjadi penguatan Dollar/pelemahan Rupiah sehingga kursnya 1$ : Rp 15.000 maka kini kita butuh uang sebanyak Rp 150.000 untuk seton kedelai jadi wajar kalau banyak yang menjerit. Namun sebaliknya banyak wisatawan asing yang bersyukur ketika Rupiah melemah karena itu berarti biaya berkunjung ke Indonesia bisa dikurangi dan harga barang di Indonesia lebih murah.


Pesan saya dalam ekonomi tidak ada yang pasti, hanya karena mata uang melemah bukan berarti ekonomi kita hancur kawan. Berkat Yuan yang melemahlah Cina melindungi perusahaan domestiknya dan juga berkat rupiah yang melemahlah daerah wisata di Indonesia berhasil menarik hati waisatawan mancanegara.


Sumber :


Wang Xiang Jun, 2010, China's megatrend, Pustaka Solomon.



Komentar

Postingan Populer