Pandangan saya tentang gerakan antinatalist.
Suatu hari saya iseng meminta pendapat sama kawan saya. Saya bertanya pendapatnya tentang gerakan antinatalist, dia balik nanya karena enggak paham. Saya jelasin kalau antinatalist itu gerakan untuk mengurangi atau bahkan berhenti punya anak. Dia kaget sampe tersedak liurnya sendiri,"ajaran sesat tuh, jangan takut punya anak lagian setiap anak ngebawa rezekinya masing-masing, terus kalau enggak mau punya anak ngapain kawin. Malah mirip binatang". Agak geli ngedenger pendapatnya, dia nyamain antinatalist dengan binatang padahal binatang enjot-enjotan justru karena ingin berkembangbiak.
Gerakan antinatalist sebenarnya muncul sudah lama dan pencetus pertamanya adalah seorang anak raja yang memutuskan menjadi pertapa dan menerima pencerahan setelah bermeditasi dibawah pohon. Sebagian orang pasti paham siapa dia, yups Buddha Sidharta Gautama. Buddha yang menerima pencerahan harus menerima kenyataan jika kehidupan manusia dipenuhi penderitaan berupa kemiskinan, kesakitan, dan bahkan kematian.
Oleh karena itu seseorang yang mengikuti ajaran Buddha hendaknya mencegah terjadinya penderitaan itu pada diri siapapun termasuk anak mereka yang belum lahir. Bagi mereka untuk apa membawa seorang anak ke dunia yang penuh derita, lebih baik mereka enggak usah datang sekalian dan tenang di kehidupan sebelumnya. Jangan aneh kalau seorang biksu menolak berhubungan intim, alasannya bukan karena mereka impoten atau bahkan gay tetapi karena mereka sangat menyayangi theirunborn child, anak mereka yang sebaiknya tidak usah ikut merasakan penderitaan yang mereka alami di dunia ini.
Di zaman modern yang diancam dengan overpopulasi, pemanasan global, kenaikan air laut dan yang paling sering terjadi yaitu kekerasan antarmanusia, prinsip antinatalist menjadi terlihat menggairahkan. Namun biar begitu masih ada segelintir orang yang justru menutup mata atas kerusakan yang sedang melanda bumi. Mereka beranggapan kalau setiap anak membawa rezekinya masing-masing dan Tuhan akan selalu bersikap adil kepada ciptaannya. Pendapat yang lumayan naif, mereka seolah lupa kalau Tuhan yang mereka sembah juga punya kekuasaan untuk memberi cobaan bagi makhluknya. Kalau seandainya mereka punya 3 orang anak lalu ternyata salah satunya butuh tambahan biaya hidup, mau tidak mau 2 anak yang lain akan diambil sebagian rezekinya untuk membantu 1 anak tersebut. Salah satu naluri makhluk hidup adalah memenuhi nutrisi, jika 2 anak yang rezekinya diambil itu merasa ikhlas enggak masalah, tapi kalau ternyata mereka lebih memilih mengikuti naluri bisa tumbuh dendam kesumat. Itu baru satu anak, gimana kalau semuanya yang kesusahan bisa terjadi perang saudara tuh, oleh karena itu peluang terjadinya brokenhome semakin membesar seiring bertambahnya jumlah anak.
Saya tidak melarang kalian punya anak, saya hanya ingin kalian membuka mata. Jangan sampai banyak pencopet bermunculan karena banyak anak yang tidak mampu sekolah, jangan sampai anak kita perang rebutan tanah karena naiknya air laut, dan yang terutama jangan sampai anak kita mengalami penderitaan karena kesalahan kita.
Salam sayang.


Komentar
Posting Komentar