Memaknai kemiskinan secara realistis dan membuang pola pikir utopis.
Kalau ditanya tentang revolusi industri yang paling berpengaruh, saya akan menjawab revolusi industri pertama. Alasannya karena yang diubah bukan hanya metode produksinya saja tetapi juga pola pikir masyarakat.
Bayangkan anda yang sebelumnya seorang bangsawan, hidup enak dari tanah yang luas kemudian digeser oleh para pengusaha bermodalkan beberapa mesin uap dan pada akhirnya era feodalisme mulai luntur. Dan ada satu lagi fenomena yang muncul berkaitan dengan mesin uap yaitu munculnya komun*sme, di era mesin uap ketika sebagian besar pekerjaan bisa diganti dengan tenaga mesin, tenaga manusia menjadi berkurang permintaannya alhasil para buruh tidak bisa mendapatkan gaji yang layak karena bisa diterima kerja saja sudah sangat bersyukur.
Dari fenomena ini, Karl Marx menyimpulkan jika kesejahteraan hanya bisa diraih jika para buruh bersatu dan mengambil alih aset para pengusaha. Marx menuliskan pikirannya kedalam sebuah buku berjudul Das Kapital, sebuah buku yang menjadi bahan bakar bagi revolusi komun*sme di seluruh dunia.
Alih-alih berhasil menciptakan dunia yang tidak memiliki kesenjangan, justru para petinggi partai komun*s malah mengulang periode kelam. Bagi para penduduk negara sosialis, para elit partai hanya menggantikan peran borjuis yang ironisnya dulu dilibas oleh mereka, ibarat keluar mulut buaya masuk ke mulut harimau. Sebenarnya apa yang salah dari buah pikiran Marx? Kalau dilihat dari sudut pandang orang yang awam, niat komun*sme dianggap mulia karena menjamin kesetaraan setiap warganegaranya dan rakyat tidak usah pusing dengan harga barang yang naik-turun karena harganya sudah diatur pemerintah. Namun masalah terbesarnya terletak pada kemampuan mendongkrak kinerja manusia, jika di negara kapitalis seorang pekerja dibayar tergantung kinerjanya, semakin rajin semakin besar gajinya dan dengan demikian semakin baiklah kondisi hidupnya. Kejadian sebaliknya terjadi di negara sosialis, para pekerja di tingkat bawah mendapat upah yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, barang sekunder maupun tersier hanya berlaku bagi mereka yang "berjasa" bagi negara.
Melihat betapa besarnya peran negara sosialis dalam memegang kebutuhan maka jangan heran jika terjadi banyak penyalahgunaan kekuasaan. Banyak kasus korupsi zaman Soviet yang telah terbuka (kalau yang tertutup barangkali lebih banyak), sebagian besar kasus berisi tentang bagaimana para pejabat partai lebih mengutamakan keluarganya agar mendapatkan barang mewah dan yang tragis ada juga kasus tentang seorang wanita menjual tubuhnya agar keluarganya bisa dirawat dirumah sakit khusus petinggi partai. Miris yah, slogan sama rasa sama rata khas komun*s justru melahirkan kebohongan dan perbudakan.
Ada satu dampak negatif yang kerap dialami negara sosialis yaitu terhambatnya pertumbuhan penduduk akibat menurunnya produktivitas ekonomi. Di negara sosialis yang kebutuhan hidup dikontrol pemerintah dan barang sekunder sulit didapat maka jalan satu-satunya yaitu dengan memperkecil jumlah mulut yang harus diberi makan. Kalau kalian jeli melihat pertumbuhan penduduk di Korea Kembar, kalian akan melihat fakta mengejutkan kalau Korsel yang semasa perang Korea jumlah penduduknya lebih sedikit dari saudaranya, justru kini 2 kali lebih banyak dari penduduk Korut. Alasannya jelas karena di negara kapitalis kita lebih bebas dalam berkarya dan menentukan harga, kalau barang buatan saya lebih bagus maka harganya bebas saya naikkan, kalau kerja saya lebih keras maka gaji saya semakin banyak, alhasil semakin besar penghasilan kita maka semakin bagus kondisi hidup kita, mau punya berapa anak? Langsung gassss.
berlawanan dengan negara sosialis, mau minta tambahan bahan makanan bisa dihukum karena melanggar kuota, mau protes nanti dikirim ke Gulag, mau misuh di warung bisa berakhir sebagai mayat dalam karung (mirip siapa hayoo?). Jangan aneh kalau ada istilah Tirai Besi, karena Uni Soviet ketakutan kalau rakyatnya tahu betapa enaknya kualitas hidup di negara kapitalis.
Dari sejarah yang diulas Daron Acemoglu, kita ambil kesimpulan jika memberi pemerintah kekuasaan terlalu besar justru akan berakhir jelek. Banyak orang yang mengeluh tentang naiknya harga dan rendahnya pendapatan tapi menurut Daron, baik-buruknya perekonomian suatu negara dilihat dari daya beli warganya. Harga barang tinggi tapi masih bisa dibeli itu wajar, upah rendah tapi masih bisa makan itu juga wajar, sekedar info dulu AS dizaman depresi besar, jumlah barang melimpah namun pemasarannya terbatas ujungnya harga barangnya jatuh tapi rakyatnya gak punya penghasilan karena diPHK besar-besaran akibat banyak perusahaan bangkrut, sementara di Venezuela warganya berpenghasilan jutaan Peso tapi barang-barang langka ujungnya banyak yang kelaparan gak bisa beli makanan. Dengan demikian tugas pemerintah yang paling penting daripada mengontrol kebutuhan warganya alangkah jauh lebih baik memastikan jumlah stok barang bisa mencukupi, tidak terlalu banyak karena akan merugikan pengusaha dalam negeri dan tidak terlalu sedikit karena akan membuat pembeli menjerit.
Selalu ingat kalau satu-satunya yang bisa mengangkatmu dari kemiskinan adalah dirimu dan bukan orang lain, sungguh tidak logis kalau menyerahkan kebebasan hidupmu kepada sekelompok orang (dari kasus diatas adalah partai komun*s) hanya karena janji kehidupan yang setara dan tidak ada kemiskinan karena itu sangat utopis dan mustahil. Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda dan kesenjangan sosial akan selalu ada, tugas kita sebagai manusia hanyalah memastikan bahwa semiskin apapun seseorang Ia masih bisa mencukupi kebutuhannya.
Sumber :
buku why nations fail karya Daron Acemoglu
https://www.pdfdrive.com/why-nations-fail-the-origins-of-power-prosperity-and-poverty-e157892932.html



Komentar
Posting Komentar