Mekanisme lancar tidaknya kudeta berdasarkan pendekatan Machiavellian


Pernah tidak kalian bertanya-tanya kenapa komunis berhasil merebut kekuasaan di Rusia dan Cina namun gagal dibelahan dunia lain. Menurut Machiavelli, sulit atau tidaknya kudeta tidak bergantung pada kekuatan pelaku kudeta melainkan kondisi demografis negara yang dikudeta.


Machiavelli dalam bukunya yang masyhur menyebut kalau negara dibagi 2 ketika dijadikan sasaran invasi. Yaitu sulit ditaklukan namun mudah dikendalikan dan mudah ditaklukan namun sulit dikendalikan.


Kekaisaran Rusia, Kekaisaran Ottoman dan Kuomintang itu termasuk tipe pertama. Ketiga pemerintahan itu memiliki kekuasaan absolut disertai minimnya tokoh yang menonjol selain penguasa negeri tersebut dan dengan demikian sulit ditumbangkan karena kekuatannya yang cukup besar. Oleh karena itu, kaum komunis maupun Mustafa Kemal sama-sama mengandalkan situasi untuk bisa menguasai negara tersebut. Tanpa kekalahan Ottoman dalam perang dunia 1, Mustafa tidak akan bisa berkuasa. Begitu juga Bolshevik tidak akan berkuasa jika kelaparan tidak menyerang Warga Rusia. Kunchantang juga akan musnah jika saja Kuomintang tidak keburu bentrok dengan Pasukan Jepang.


Meski diuntungkan oleh situasi tapi tetap saja proses berkuasa masih berdarah-darah. Banyak Pasukan Turki Muda yang gugur demi mempertahankan Anatolia agar tidak dibagi-bagi Imperialis Eropa. Begitu juga banyak pasukan komunis yang dieksekusi oleh lawannya. Namun setelah berkuasa, kekuasaan mereka bisa dibilang langgeng akibat minimnya tokoh yang menonjol dinegara tersebut. Kalau saja ada tokoh yang cukup dominan selain Sultan Turki, Tsar Rusia, atau Presiden Republik Cina maka bisa dipastikan akan muncul gerakan perlawanan baru yang menentang mereka. Hasilnya bisa dilihat sekarang, Republik Turki dan RRC masih langgeng sementara Uni Soviet justru tumbang akibat tidak kompeten mengurus perekonomian.


Sebaliknya dengan Negara Arab yang kini berperang akibat proses pergantian kekuasaan yang prematur (Arab Spring). Di negara Arab, kondisinya terbagi menjadi berbagai faksi entah suku, etnis ataupun agama. Dan masing-masing faksi itu punya tokoh masing-masing. Para penguasa bisa berkuasa dengan 2 jalan, menyuap para tokoh ataupun membully faksi itu. Ambil satu contoh yakni Iraq dibawah Saddam yang sering diberitakan melakukan kekerasan terhadap warganegaranya sendiri dari golongan Syiah. Hal itu membuat Iraq dan negara Arab lain menjadi negara jenis kedua yaitu mudah ditaklukan tapi sulit dikendalikan. Ketika AS menginvasi Iraq, operasinya bisa dibilang sukses karena Pasukan Iraq berhasil dihancurkan dalam sekejap meski butuh waktu beberapa bulan lagi untuk menciduk Saddam. Alasan mudahnya Pasukan Koalisi mengalahkan Iraq tidak bisa lepas dari banyaknya tokoh yang menonjol, tinggal cari yang paling membenci Saddam lalu berdayakan untuk mencari info maupun tambahan tenaga.


Hanya saja satu hal yang tidak diperhatikan AS adalah para tokoh pemimpin faksi yang menonjol itu punya anggota berjumlah besar. Seandainya AS lebih jeli, maka harusnya mereka sadar menumbangkan pemimpin yang paling kuat (Saddam) tidak akan membuat situasi membaik tapi justru memancing para warlord untuk saling berebut kekuasaan. Naasnya bukan hanya Iraq yang kini terpecah tetapi juga sebagian besar Timur Tengah pasca Arab Spring. 


Selain itu contoh negara-negara yang masuk contoh kedua itu Eropa jaman pertengahan, bagi Machiavelli alasan paling utama kenapa jarang ada dinasti yang berhasil menyatukan Eropa adalah sistemnya yang tidak sehierarkis daerah lain. Jika di Asia, semisal Cina, Ottoman, India seorang raja membawahi ribuan tentara dibawah komandonya berbeda dengan raja di Eropa yang militernya justru dikelola juga oleh para duke. Jadi jika ingin mengalahkan seorang raja anda tinggal siapkan sekantung emas untuk menyuap beberapa duke tetapi percayalah anda akan sangat kesulitan untuk menyatukan wilayahnya dengan kerajaan anda karena duke yang lain akan bangkit melawan.


Pertanyaan krusial, Indonesia masuk yang mana?


Sumber : 


Niccolo Machiavelli. 1987. Sang Penguasa. PT Gramedia Pustaka Utama.

Komentar

Postingan Populer